Perjalanan Belajar : Olimpiade Thailand #1
Esok aku kan pergi, nggak lama. Hanya
untuk sementara. Udah beberapa hari aku nggak sekolah karena demam. Mungkin
dari hari Kamis hingga hari ini masuk ke minggu yang baru. Malam ini hari
Senin. Bukan tanpa schedule, sudah banyak hal yang aku rencanakan hingga bulan
depan. Jelas sekali malam ini aku penuh gundah, jadi aku putuskan untuk tidur
bersama Mama.
“Uda jangan
terlalu stress. Nggak penting menang kalah, nggak usah didengarkan kata orang.
Kita cari pengalaman kok.” kata Mama sambil memelukku. Iya, memang aku bisa
tenang jika dipeluk. Tapi tetap saja, aku masih resah. Pikiranku berlayar entah
kemana-mana. Mungkin sih, aku terlalu berlebihan. Tapi nggak salah juga, aku
juga lagi sakit. Jadi mungkin agak merasa kurang tenang. Sebenarnya, besok pagi
–bahkan dini hari– aku harus berangkat ke sekolah. Harus mempersiapkan berbagai
macam hal untuk kebutuhanku selama empat hari. Iya, aku akan travelling
sendiri. Nggak seratus persen sendiri, lebih tepatnya bersama kawan-kawan.
Sendiri dalam konteks tanpa orang tua dan adik-adik. Aku sih bulan Januari lalu
pernah merasakan juga pas ke Yogyakarta, waktu itu aku ikut Olimpiade Geografi
Nasional. Memang tak menang, tapi Alhamdulillah pengalamannya berharga. Kali
ini, aku akan bertanding juga di negeri orang. Aku akan mengikuti Speech
Competition di Kota Phatthalung, Thailand. Aduh, gugup juga.
DAY #1 Keberangkatan dan Perjalanan
Aku sudah
terbangun jam 2 pagi. Mama juga sudah bangun, karena memang pasti membantuku
berkemas. Aku terlebih dahulu sholat tahajud dan mempersiapkan barang. Koper
sudah kupersiapkan dua hari yang lalu lengkap dengan perlengkapan yang
dibutuhkan. Tak lupa aku juga membawa laptop di tas hijau kesayanganku dan juga
beberapa alat elektronik keperluan smartphone-ku. Juga tak lupa earphone dan
juga Al-Quran yang kuletakkan di tas kecil yang kugandeng di bahu. Kemudian aku
bergegas mandi dan mengenakan baju dan juga jaket. Sekiranya selesai semua, aku
membangunkan Papa dan meminta mengantarku menuju sekolah.
Sebelum memasuki mobil,
aku meletakkan koper terlebih dahulu di bagasi. Aku menyalam dan memeluk Mama.
Karena masih terlalu pagi, adik-adikku belum terbangun. Jadi ya, berangkat
saja. Di mobil, aku meminta Papa untuk mengisi pulsa teleponku. Dan di jalan
yang masih sepi itu, aku bisa sampai ke sekolah dalam waktu sepuluh menit saja.
Sekolah pun tampak remang karena tak banyak lampu yang hidup. Sudah cukup ramai
yang berkumpul untuk berangkat. Namun, aku lebih memilih duduk terlebih dahulu
di mobil.
“Uda nggak turun?”
tanya Papa.
“Tunggu bentar
lagi aja, Pa.” jawabku sambil berpikir apa teman-temanku sudah sampai.
Ooiya, yang
berangkat bukan hanya dari SMA tempatku bersekolah. Karena sekolahku memiliki
beberapa unit, adik-adik kelas kami di SMP pun juga ikut serta dalam
pertandingan ini. Aku menunggu sampai teman-temanku yang dari SMA hadir.
“Pa, kayaknya itu
kawan Rafie, si Fickry.”
“Oh yaudah, mau
turunin kopernya?” tanya Papa.
“Iya, sekarang
aja Pa.” jawabku.
Aku menurunkan
koper dari bagasi dan berpamitan dengan Papa.
“Tenang santai
aja ya, jangan terlalu dipikirin.” nasihat Papa waktu itu.
“Iya Pa.” jawabku
pelan.
“Papa tinggal
pulang aja udah bisa kan.”
Setelah aku
menyalam dan mencium Papa, aku langsung menyeret koperku menuju gedung sekolah.
Tampak Fickry juga dari kejauhan memanggilku.
“Yuk fie! Bawa ke
lantai atas.”
“Lah, bawa ke
atas?” tanyaku.
“Iya, katanya mau
ditandai dulu.” jawab Fickry.
Aku mengangkat
koperku lewat tangga. Cukup gelap, tapi karena tidak sepi jadi tidak terlalu
menakutkan. Sesampainya di tingkat tiga, aku langsung masuk ke dalam kantor
guru SMP. Di dalamnya ada beberapa guru yang akan mendampingi kami dalam
perjalanan dan aku juga bertemu Pak Hernawan, Kepala Sekolah SMP. Ternyata,
beberapa guru tersebut sudah menginap di sini dari tadi malam.
”Fie, udah datang
teman-teman yang lain?” tanya Pak Hernawan padaku.
“Yang SMA tinggal
Bang Andi yang belum Rafie tengok, Pak. Mungkin lagi di jalan.”
“Oke, bantuin
guru-gurunya pasang tali merah-putih di koper-koper ya. Tapi cak pasangkan
id card ini aja. Tali lehernya.”
“Siap Pak.” kataku
dengan tegas.
Setelah selesai,
aku pergi sebentar ke kamar mandi yang aku tidak tahu itu untuk perempuan atau
laki-laki karena ini gedung SMP. Ketika aku keluar aku sudah menemukan
Spider-Man berdiri di depan pintu kantor guru. Kalau di sekolahku, itu adalah alter-ego
dari seseorang jenius yang juga abang kelasku, Andi Farras. Karena sudah lama
tak berjumpa, aku menyalam hormat padanya. Hahaha, sungguh aneh.
Dia juga
mengikuti bidang olimpiade yang sama denganku, Speech. Yang mana secara
otomatis, menjadi sainganku. Kalau Fickry mengikuti olimpiade Matematika. Dan
salah satu siswi lainnya dari SMA, yang juga sahabat lamaku, Fira. Dia akan
bertanding dalam bidang olimpiade sains. Setelah semua urusan selesai semua,
kami segera menuju lantai bawah. Di situlah aku bertemu Fira, dan beberapa adik
SMP yang belum kukenal satu-satu. Ada tujuh orang dari mereka, dan salah
satunya adalah laki-laki. Aku juga bertemu dengan beberapa orangtua mereka. Aku
juga menyalam Mama-nya Bang Andi.
Kami diarahkan untuk meletakkan koper di
mobil pick-up dan kami menaiki bus sekolah. Aku duduk di barisan kursi paling
belakang. Di sebelah kananku, ada adik kelas laki-laki yang sudah kusebut tadi
namun aku belum sempat untuk berkenalan dengannya. Ia tampak masih agak ngantuk
mengenakan jaket hitamnya dan memasang headset di telinganya sambil
mendengarkan lagu. Di sebelah kiriku ada Bang Andi dan Fickry. Fira duduk
bersama adik-adik perempuan lainnya di barisan depan.
“Sudah masuk
semua?” tanya Pak Erwin, salah satu guru pendamping kami.
“Siap Pak!” jawab
kami semua sambil mengacungkan jempol.
Supir bus pun
langsung menghidupkan mesin dan mulai mengendarainya pada perjalanan menuju
Bandara Internasional Kualanamu. Di satu barisan depanku, ada seorang adik
kelas perempuan yang berkacamata. Pandanganku tertuju padanya yang menurutku
sedikit lasak. Dia membuka tasnya dan mengeluarkan Mac-nya. Sudah kuduga aku
akan pusing setengah mati. Heboh sekali! Lagu Korea yang terus menerus mereka
lantunkan. Keras-keras teriakan mereka, aduh.
“This will be a
fun journey.” kata Bang Andi sambil
mengeleng-gelengkan kepalanya.
Aku hanya
tertatap sendu penuh pemikiran lelah. Aku merasa sangat khawatir apabila tidak
menang dan kupikir hanya menghambur-hamburkan uang. Namun di sisi lain, kupikir
ini akan menjadi pengalaman yang menyenangkan.
Belum tahu nama
mereka satu-satu, yang kutahu ada salah satu adik kelasku yang ternyata
memiliki kakak di SMA. Namanya Laras, adiknya Kak Lintang, kakak kelasku yang
mana juga sekelas dengan Bang Andi. Selain itu, aku belum mengenal mereka semua
dan belum berniat untuk mencari tahu. Adik berkacamata tadi masih membuka
YouTube, namun tidak mendengarkan musik lagi. Dia malah membuka video dari
salah satu youtuber terkenal, Nessie Judge. Konon ia penasaran dengan Talking
Angela yang katanya tidak boleh dimainkan pada jam 3 pagi. Dalam video itu
tentu saja berisi dengan hal-hal horror.
“AAAHH!” adik itu
dan teman-temannya berteriak.
“SSSTT,” kata
Bang Andi sambil meletakkan jari telunjuknya di bibir.
“Jangan ribut
kali.” lanjutnya.
Aku heran untuk
apa mereka menonton itu sepagi ini. Jalan-jalan gelap gulita dan membingungkan.
Di perjalanan, aku mengobrol kecil dengan Bang Andi.
“Speech ada
berapa orang bang?” tanyaku.
“Empat, kita
berdua. Sama adik SMP ini juga dua dari mereka.” jawab Bang Andi.
Ini adalah
pertandingan internasional! Aku sungguh khawatir karena ini juga membawa nama
bangsa Indonesia. Pikiranku dihantui itu saja dari minggu-minggu yang lalu yang
pada akhirnya membuatku sakit. Namun hari ini, harus semangat!
Tak terasa 45
menit menuju Bandara Kualanamu pada akhirnya kami sampai. Saat Bang Andi masih
mendengar kehebohan anak-anak perempuan itu, dia berkata :
“Alah, kelen di
sini semangat-semangatnya. Nanti sampe sana diam semua.”
Ucapannya
langsung ditertawakan satu bus. Termasuk guru-guru pendamping yang ikut. Kami
pun turun. Sementara itu, mobil pick-up yang membawa koper kami belum sampai.
Adik-adik kelas langsung masuk ke dalam bandara. Kami yang tua-tua membawa tas
mereka dengan trolley bandara. Banyak juga, seluruh rombongan ada 16 orang
termasuk lima orang guru pendamping.
Setelah melakukan
x-ray check untuk barang-barang bawaan, kami langsung menuju tempat
Check-In. Di tempat tersebut langsung dikumpulkan koper yang akan dimasukkan
dalam bagasi pesawat. Itu menjadi urusan Pak Erwin dan kedua guru perempuan,
Miss Fitri dan Miss Sheila. Sementara Pak Hernawan bersamaku dan dia dengan
santainya meminum teh manis hangat. Aku tertawa kecil dan membicarakan beberapa
hal.
Aku merasa
sedikit lapar, tadi pagi hanya disuap Mama beberapa suapan nasi dan ayam
goreng. Jadi aku bersama Fickry dan Bang Andi menuju sebuah minimarket yang ada
di bandara.
“Kau mau beli
apa?” tanya Bang Andi.
“Ini aja Roti bang, sandwich.” jawabku.
“Itu aja yang
panjang lebih hemat.” kata Fickry
“Udah ini aja,
mau beli Aqua juga.”
Fickry membayar
duluan di kasir kemudian disusul olehku. Setelah itu kami kembali ke tempat
kumpul tadi.
“Kau bawa berapa
Yen, fie?” tanya Fickry.
“Ha? Yen?
Hahaha..” tanyaku ulang sambil tertawa.
“Baht loh.”
lanjutku dan Bang Andi pun tertawa juga.
“Ooiya, maaf
salah aku.” kata Fickry.
“Secukupnya aja sih, Rafie juga bawa Ringgit
sama Rupiah juga.” jawabku.
“Aku masih ada
sisa aku pergi ke Thailand tahun lalu.” kata Bang Andi.
Kami berdua pun
mengangguk dan berjalan. Ternyata ketika kami sampai ke tempat kumpul, kami
diperintahkan untuk membentangkan spanduk. Di spanduk tersebut wajahku tidak
ada.
“Cuma muka Rafie
nih, yang nggak ada.” kata Pak Hernawan sambil tertawa.
“Udah pak, dia
yang pegang kiri bawah aja. Hahaha..” kata Bang Andi.
Setelah selesai
berfoto ria. Beberapa siswa-siswi yang orangtuanya ikut serta mengantar
berpamitan. Aku dan Pak Erwin bergegas menuju x-ray check yang menuju kepada
pintu keberangkatan internasional. Sesambil juga yang lainnya mengantri di
belakang, aku memasukkan tas dan beberapa barang logam ke dalamnya menuju
pemeriksaan. Setelah selesai semua urusan tersebut, kami melewati tangga
escalator dan bergegas jalan ke pemeriksaan petugas imigrasi. Kami menyerahkan
paspor untuk diperiksa dan juga tiket yang diperlukan dalam penerbangan. Surat
jalan resmi dari sekolah pun diserahkan dengan tujuan untuk mengikuti
olimpiade. Semuanya selesai dan berkumpul dengan tertib.
“Mau ke toilet
dulu, Fie?” tanya Pak Erwin.
“Iya Pak. Ini
juga udah subuh. Gimana?”
“Kita nanti
sholat di pesawat saja.” sarannya.
Aku mengangguk
dan bergegas ke toilet. Fickry dan Pak Hernawan juga. Aku juga sekalian mengambil
air wudhu. Dan ketika siap, aku langsung berlari ke pintu menuju pesawat yang
ternyata sudah dibuka sejak tadi.
“Ayo.. ayo.” kata
Pak Erwin dan kulihat Fickry terburu-buru berlari di belakang.
Paspor identitas
kami diperiksa dan juga tiket penerbangan. Kami akan terbang menuju Pulau
Penang, Malaysia. Lebih tepatnya Kota Georgetown. Dan karena aku sudah pernah
berkunjung kesana, penerbangan ini tidak akan menghabiskan waktu yang cukup
banyak karena penerbangan hanya mengudara selama 45 menit.
Aku duduk di
ujung kanan. Tepat di sebelahku Fickry terduduk dan dekat jalan tengah pesawat
Bang Andi. Di kursi barisan kirinya ada Fira yang duduk sendiri. Rombongan
sisanya duduk di bagian belakang pesawat.
“Op, pasang sg
langsung.” kata Fickry padaku. (Snapgram/Instagram Story)
“Hahaha, biar
tahu aja udah mau berangkat.” jawabku padanya.
Pesawat akan
segera terbang. Pramugari-pramugari cantik seperti biasanya di pesawat
menginstruksikan berbagai hal. Secara pelan-pelan pun, pesawat mulai terbang
menuju jalurnya.
Bersambung.

Comments
Post a Comment